PENERBIT EDELWEISS
Harimau di Tengah Bara
Pengarang: E. Rokajat Asura
Format: 13 x 20,5 cm
ISBN: 978-602-8672-00-9
Jumlah halaman: 446
Harga: Rp 49.000,-
Soft cover
Terbit: 22 Oktober 2009
Sinopsis
“Wangsit Siliwangi selalu mengundang rasa penasaran, sebab amanat ini penuh misteri. Salah satu ungkapan dalam wangsit disebutkan kalau pada suatu saat akan ada yang menelusuri sejarah Sunda yang sebenarnya, hanya semakin menambah rasa penasaran dari novel ini bahwa sejarah Sunda belum benar-benar terkuak.”
Aan Merdeka Permana, Pemimpin Redaksi Majalah Sunda Ujung Galuh, penulis novel Perang Bubat, dan novel Trilogi Senja Jatuh di Pajajaran
Sejatinya ketidaksenangan Prabu Siliwangi bukan terhadap Kesultanan Cirebon dan Islam semata, melainkan karena hubungan dengan Demak yang terlalu akrab pemicu membuncahnya kemarahan. Selangkah sebelum genderang perang ditabuh, purohita Pajajaran, Ki Purwagalih mengingatkan.
″Cirebon sebenarnya bukan siapa-siapa sekalipun akhir-akhir ini sering berulah. Bukankah Syarif Hidayatullah yang menjadi Susuhunan Jati sekarang adalah putra dari Nyimas Ratu Rarasantang, putri Gusti Prabu sendiri? Bukankah Pangeran Cakrabuana yang tak lain adalah Prabu Anom Walangsungsang, putra Gusti Prabu sendiri? Bagaimana tanggapan negeri-negeri sahabat juga Portugis yang telah bersedia untuk kerja sama, jika seorang kakek memerangi cucunya sendiri dengan pasukan perang luar biasa seperti ini? Ampun Gusti Prabu, aku terlalu lancang bicara seperti ini!” jelas Ki Purwagalih menunduk makin dalam. Prabu Siliwangi mendengus pada angin.
Teks dan konteks dari Wangsit Prabu Siliwangi memiliki nilai-nilai historikal yang sangat kental dan mendalam. Hal ini harus dilihat dari paradigma berpikir sebagai muatan kearifan lokal yang masih harus diterjemahkan dalam pemahaman sejarah, dan bukan sekadar mitologis. Dalam perkembangannya, novel sejarah akan menjadi genre baru dalam dunia penulisan, khususnya bagi pertumbuhan dan perkembangan novel Indonesia yang bukan sekadar penulisan cerita yang kini sedang mewabah sebagai model novel percintaan semata.
Nirwanto Ki. S. Hendrowinoto, Pemerhati Masalah Sosial dan Budaya








