|
KORAN TEMPO A16, 18 OKTOBER 2009
Judul: GIGANTO, PRIMATA PURBA RAKSASA DI JANTUNG BORNEO Penulis: Koen Setyawan Penerbit: Edelweiss Tahun: Agustus 2009 Tebal: 440 halaman
Sebuah novel yang berangkat dari legenda makhluk misterius. Ditulis dengan apik berlatar belakang cabang ilmu zoologi, palaentologi, dan sejarah. Masyarakat Desa Sekayan di pedalaman Kalimantan Tengah menabukan penyebutan Hutan Larangan. Ketakutan membayang ketika nama hutan lebat di Jantung Borneo itu diucapkan, apalagi masuk kehutan perawan itu. Mengapa? Ketakutan itu gara-gara legenda tentang makhluk misterius bernama Batutut yang menghuni hutan tersebut. Warga di sekitar hutan menyakini bahwa tak ada seorang pun yang masuk Hutan Larangan bisa pulang dengan selamat. Sudah sejumlah warga mencoba mendekat, tapi tinggal namanya saja yang hilang.
Namun, hal itu tak berlaku bagi Ruhai bocah lelaki usia belasan tahun. Ia justru nekat masuk ke Hutan Larangan untuk membuktikan bahwa Batutut tak lebih hanya seekor binatang biasa. Maka bertemulah ia dengan sesosok makhluk bertubuh raksasa, berwarna hitam, berambut lebat dan panjang, kasar serta kusut. Setiap kali menyeringai, makhluk itu memamerkan gigi-gigi besar berwarna kuning. Tak ayal, Ruhai pun pingsan. Beruntung, ada seorang peniliti Erwin Danu, yang menyelematkan dan kembali pulang ke Sekayan. Ruhai, yang sejak bertemu dengan Batutut dihantui mimpi buruk justru tertarik untuk mengenal sosok misterius itu. Dia pun menghilang masuk kembali ke Hutan Larangan, sehingga orang tua dan warga desa panik. Erwin, yang memahami medan Hutan Larangan kembali diminta warga memimpin pencarian Ruhai. Pada saat yang bersamaan, Erwin diminta tim peneliti Gigantopitheeas blacki, yang terdiri atas Chaudry Teja, Martin, Nguyen Van Tran, dan Ruth Thong menemani mencari Yudha komara, teman meraka. Yudha yang diyakini telah menemukan Gigantopithecus hewan purba yang hidup ratusan ribu tahun silam dan sudah dianggap punah menghilang di Hutan Larangan empat tahun sebelumnya. Koen Setyawan menuliskan kisah perburuan dan pencarian Batutut yang tak lain adalah Gigantopithecus blacki itu dalam novel Giganto. Koen Setyawan pun mengajak pembaca mengikuti petualanga Erwin, Tran, dan Thong menjelajahi Hutan Larangan itu dikisahkan secara terperinci: suasana alam termasuk kondisi kejiwaan para penjalajah. Si penulis begitu menghayati petualangan itu, seolah ia sendiri ikut dalam rombongan peneliti. Suatu saat, gara-gara terserang badai, ketiga peniliti berlindung di sebuah gua. Di sanalah asal-muasal munculnya legenda Batutut itu terungkap. Pada dinding gua itu. Tran peneliti dari Universitas Hanoi, Vietnam menemukan goresan-goresan tangan menusia purba. Di tengah jejak telapak tangan itu terlukis empat mayat manusia dalam posisi terbaring, sedangakan beberapa lembing tergeletak di sisi mereka. Di tengah empat mayat itu berdiri dengan pongah sesosok tubuh raksasa berkaki pendek yang ukuran tubuhnya tiga kali tubuh manusia. Kepalanya tenggelam dalam bahu yang lebar tonjolan kecil bertengger di kepalanya, sedangkan lengannya yang panjang teracang keatas. Makhluk itu sepertinya tengah mengacam dan merayakan kemenangan. Dari sinilah legenda tentang Batutut yang berusia ratusan ribu tahun muncul. Tapi, belakangan legenda itu sengaja dihidupkan kembali oleh Yudha yang bermaksud melindungi spesies Giganto dari tangan-tangan jahat para pemburu. Di sini novelis memaparkan proses terjadinya lukisan pada dinding gua yang dibuat dengan dicut dari pigmen warna oker bahan warna kuno yang sangat awet. Untuk menggambar telapak tangan manusia, ia tinggal menempelkan telapak tangan pada dinding gua, dan meniupkan pigmen sehingga bagian yang tertutup membentuk telapak tangan. Di Kepulauan Kaimana, Papua Barat Tempo pernah menemukan lukisah telapak tangan dan aneka gambar binatang pada dinding sebuah tebing berwarna merah bata. Agaknya menusia purba ingin mengisahkan eksistensi kehidupan mereka.Dan dengan apik novel ini menggambarkan petualangan yang mendebarkan dengan latar belakang berbagai cabang ilmu pengetahuan, seperti zoologi, palaentologi dan sejarah. |