Testimoni Pembaca
| Feel: What I want in Life 02/11/2009 Pengarang: Wulan Guritno, Adilla Dimitri |
| Luna Maya tentang Buku BlackBerry 01/05/2009 "Jangan ngaku high tech deh kalau belum baca buku ini dan pake BlackBerry Harian!" |
Buku Baru
| THE ARK Penerbit Imania |
| Buku baru lainnya: |
| Menjaga Api Sukarno |
|
Tahukah Anda bahwa mobil kepresidenan yang pertama kali dimiliki oleh Republik Indonesia adalah hasil curian? Sudiro, sekretaris pribadi Sukarno, mendatangi rumah seorang pejabat Jepang yang memiliki mobil jenis limousine bermerk Buick. Hanya ada supir si pejabat yang terlihat di pekarangan rumah. Sudiro berteriak kepada si supir, “Merdeka!” Kemudian, ia menjelaskan maksud kedatangannya untuk meminta kunci mobil milik majikan si supir. “Saya bermaksud mencuri mobil juraganmu, buat presidenmu!” jelas Sudiro untuk meredakan kebingungan si supir. Alhasil, si supir melepaskan mobil milik majikannya kepada Sudiro. Mobil buatan General Motor tahun 1939 tersebut telah menemani Sukarno dalam pelbagai kegiatan yang ia lakoni pada masa-masa awal menjadi Presiden RI. Cerita tersebut adalah salah satu dari 30 kisah tentang Sukarno yang dihimpun oleh Roso Daras dalam buku setebal 276 halaman ini. Roso Daras, dalam buku ini, memang menuliskan cerita-cerita tentang Sukarno yang jarang menjadi diskursus publik. Ia menelusuri buku-buku, koran dan majalah terbitan lawas untuk menghimpun kisah-kisah snapshot perihal Sukarno.“Api di tungku tidak akan menyala dengan baik kalau kayu tak bersaling-silang,” demikian peribahasa orang Minang. Roso Daras seolah mempraktekkan peribahasa tersebut melalui buku ini. Kisah-kisah yang ia himpun bukan melulu terkait revolusi, pemikiran politik atau ideologi Sukarno namun juga cerita-cerita tentang keseharian, anekdot dan tingkah unik Proklamator RI tersebut. Keragaman tampilan kisah yang disajikan Roso Daras membuat buku ini nampak sebagai sejumput usaha untuk menjaga ‘api’ Sukarno. Khalayak agaknya hanya teringat pada judul pleidoi Sukarno di hadapan pengadilan Hindia Belanda pada tahun 1930, yakni Indonesia Menggugat, tetapi kurang paham pada kisah dan isi pleidoi yang menggetarkan banyak pihak itu. Roso Daras mengingatkan bahwa Sukarno menulis pleidoi itu setiap malam hari dengan tangan dan beralaskan tempat buang air di dalam sel selama 45 hari tanpa henti. Sukarno merujuk kepada 80 buku dan pidato tokoh terkemuka untuk menulis Indonesia Menggugat (hal.35-42). Pleidoi tersebut menjadi bahasan serius di Eropa terkait perlawanan bangsa-bangsa terjajah di Asia. Kisah yang melingkupi Indonesia Menggugat hanyalah sedikit bukti bahwa Sukarno adalah sosok yang cerdas dan responsif merasakan penderitaan masyarakatnya. Sukarno pun seorang humoris yang selalu memiliki lelucon untuk dibagi kepada lawan bicaranya. Howard P Jones, duta besar AS, pernah terpingkal-pingkal setelah mendengar lelucon dari Sukarno (hal.245-248). Sifat humoris memberi isyarat kepada kita bahwa Sukarno bukanlah pribadi yang memikirkan kehidupan pada segi politik semata. Bahkan, Sukarno juga dikenal sebagai pemikir kebudayaan yang sangat luas pengetahuannya pada bidang seni rupa. Boleh dikata, Sukarno merupakan politisi yang mampu mengupas kesenian sebaik menjelaskan pemikiran politiknya. Roso Daras juga menghimpun kisah-kisah percintaan Sukarno dengan beberapa perempuan hingga ‘gosip affair’ antara Sukarno dengan Marilyn Monroe. Cerita-cerita macam itu agaknya mampu membuat pembaca mengenal sosok Sukarno sebagai manusia biasa yang pernah tersandung oleh cinta. Bagi saya, kisah yang mengharukan justru datang dari momen Sukarno melamar Rahmi untuk menjadi istri Bung Hatta (hal.145-151). Peristiwa yang terjadi beberapa bulan setelah Proklamasi dikumandangkan itu memperlihatkan bahwa Sukarno selalu meluangkan waktu untuk memikirkan orang-orang terdekatnya. Sukarno membantu Bung Hatta, yang saat itu berumur 43 tahun dan masih perjaka, untuk mendapatkan istri. Padahal, jamak paham bahwa dua Proklamator RI itu sering berselisih pandangan politik. Lewat sikap care yang ditunjukkan oleh Sukarno kepada Bung Hatta memberi kita pelajaran bahwa politisi memang harus mampu membedakan urusan politik dan perkawanan. Suatu kali, Oei Tjoe Tat, Menteri Negara Diperbantukan Presidium Kabinet Kerja 1963-1966, pernah tidak percaya diri dengan nama Tionghoa yang disandangnya. Maka, Oei meminta Sukarno untuk memilihkan nama yang pantas baginya sebagai seorang pejabat negara. Alih-alih menuruti kemauan Oei, Sukarno malah marah dan berkata, “Apa? Kamu kan orang Timur? Apa kamu sudah kehilangan hormat pada ayahmu yang memberi kamu nama itu?” Kisah itu agaknya bisa menjadi pembanding bagi pandangan beberapa lawan politik Sukarno yang menilai Pemimpin Besar Revolusi itu sebagai pribadi bermental Jawasentris. *Penulis adalah Alumnus Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran. Rekening Bank: BNI Cabang Unpad a/n Fenny Aprilia Alamat Tinggal: Jl. Cigadung Raya Timur No.39 |
Segera Terbit
| Catatan Harian Seorang Mafia Pajak Idealisme mahasiswa yang ditanamkan selama di kampus dan kehormatan diri seorang santri tak cukup kokoh untuk membentengiku dari godaan korupsi. Di kantor pajak, korupsi [ ... ] |
| Buku segera terbit lainnya: |
Best Seller
| Wangsit Siliwangi PENERBIT EDELWEISSHarimau di Tengah Bara Pengarang: E. Rokajat Asura |
| Buku laris lainnya: |

Oleh: Fenny Aprilia*
