Testimoni Pembaca

Feel: What I want in Life
02/11/2009
article thumbnail

Pengarang: Wulan Guritno, Adilla Dimitri 
Format: 13 x 20,5 cm
ISBN:  978-979-19624-9-0 
Jumlah halaman: 244
Harga: Rp 48.000,- 
Soft cover
Terbit: 21Oktober 2009   Sinop [ ... ]


Luna Maya tentang Buku BlackBerry
01/05/2009
article thumbnail

"Jangan ngaku high tech deh kalau belum baca buku ini dan pake BlackBerry Harian!"

~ Luna Maya


Buku Baru

THE ARK

article thumbnail

Penerbit Imania
THE ARK
Konspirasi Merekonstruksi Bahtera Nuh untuk Menghancurkan Peradaban Manusia
Pengarang: Boyd Morrison               [ ... ]


Buku baru lainnya:
Menjaga Api Sukarno

Oleh: Fenny Aprilia*


Judul Buku    : Bung Karno; The Other Stories: Serpihan Sejarah Yang Tercecer
Penulis         : Roso Daras
Penerbit       : Imania dan Pustaka Media Mulia
Tebal Buku   : xxxviii, 276 halaman
Edisi             : Cetakan I, November 2009
Nomor ISBN  : 978-602-95607-2-5

 Tahukah Anda bahwa mobil kepresidenan yang pertama kali dimiliki oleh Republik Indonesia adalah hasil curian? Sudiro, sekretaris pribadi Sukarno, mendatangi rumah seorang pejabat Jepang yang memiliki mobil jenis limousine bermerk Buick. Hanya ada supir si pejabat yang terlihat di pekarangan rumah. Sudiro berteriak kepada si supir, “Merdeka!” Kemudian, ia menjelaskan maksud kedatangannya untuk meminta kunci mobil milik majikan si supir.

 “Saya bermaksud mencuri mobil juraganmu, buat presidenmu!” jelas Sudiro untuk meredakan kebingungan si supir. Alhasil, si supir melepaskan mobil milik majikannya kepada Sudiro. Mobil buatan General Motor tahun 1939 tersebut telah menemani Sukarno dalam pelbagai kegiatan yang ia lakoni pada masa-masa awal menjadi Presiden RI. Cerita tersebut adalah salah satu dari 30 kisah tentang Sukarno yang dihimpun oleh Roso Daras dalam buku setebal 276 halaman ini.

 Roso Daras, dalam buku ini, memang menuliskan cerita-cerita tentang Sukarno yang jarang menjadi diskursus publik. Ia menelusuri buku-buku, koran dan majalah terbitan lawas untuk menghimpun kisah-kisah snapshot perihal Sukarno.

 “Api di tungku tidak akan menyala dengan baik kalau kayu tak bersaling-silang,” demikian peribahasa orang Minang. Roso Daras seolah mempraktekkan peribahasa tersebut melalui buku ini. Kisah-kisah yang ia himpun bukan melulu terkait revolusi, pemikiran politik atau ideologi Sukarno namun juga cerita-cerita tentang keseharian, anekdot dan tingkah unik Proklamator RI tersebut. Keragaman tampilan kisah yang disajikan Roso Daras membuat buku ini nampak sebagai sejumput usaha untuk menjaga ‘api’ Sukarno.

 Khalayak agaknya hanya teringat pada judul pleidoi Sukarno di hadapan pengadilan Hindia Belanda pada tahun 1930, yakni Indonesia Menggugat, tetapi kurang paham pada kisah dan isi pleidoi yang menggetarkan banyak pihak itu. Roso Daras mengingatkan bahwa Sukarno menulis pleidoi itu setiap malam hari dengan tangan dan beralaskan tempat buang air di dalam sel selama 45 hari tanpa henti. Sukarno merujuk kepada 80 buku dan pidato tokoh terkemuka untuk menulis Indonesia Menggugat (hal.35-42). Pleidoi tersebut menjadi bahasan serius di Eropa terkait perlawanan bangsa-bangsa terjajah di Asia. Kisah yang melingkupi Indonesia Menggugat hanyalah sedikit bukti bahwa Sukarno adalah sosok yang cerdas dan responsif merasakan penderitaan masyarakatnya.

 Sukarno pun seorang humoris yang selalu memiliki lelucon untuk dibagi kepada lawan bicaranya. Howard P Jones, duta besar AS, pernah terpingkal-pingkal setelah mendengar lelucon dari Sukarno (hal.245-248). Sifat humoris memberi isyarat kepada kita bahwa Sukarno bukanlah pribadi yang memikirkan kehidupan pada segi politik semata. Bahkan, Sukarno juga dikenal sebagai pemikir kebudayaan yang sangat luas pengetahuannya pada bidang seni rupa. Boleh dikata, Sukarno merupakan politisi yang mampu mengupas kesenian sebaik menjelaskan pemikiran politiknya.

 Roso Daras juga menghimpun kisah-kisah percintaan Sukarno dengan beberapa perempuan hingga ‘gosip affair’ antara Sukarno dengan Marilyn Monroe. Cerita-cerita macam itu agaknya mampu membuat pembaca mengenal sosok Sukarno sebagai manusia biasa yang pernah tersandung oleh cinta.

 Bagi saya, kisah yang mengharukan justru datang dari momen Sukarno melamar Rahmi untuk menjadi istri Bung Hatta (hal.145-151). Peristiwa yang terjadi beberapa bulan setelah Proklamasi dikumandangkan itu memperlihatkan bahwa Sukarno selalu meluangkan waktu untuk memikirkan orang-orang terdekatnya. Sukarno membantu Bung Hatta, yang saat itu berumur 43 tahun dan masih perjaka, untuk mendapatkan istri. Padahal, jamak paham bahwa dua Proklamator RI itu sering berselisih pandangan politik. Lewat sikap care yang ditunjukkan oleh Sukarno kepada Bung Hatta memberi kita pelajaran bahwa politisi memang harus mampu membedakan urusan politik dan perkawanan.

 Suatu kali, Oei Tjoe Tat, Menteri Negara Diperbantukan Presidium Kabinet Kerja 1963-1966, pernah tidak percaya diri dengan nama Tionghoa yang disandangnya. Maka, Oei meminta Sukarno untuk memilihkan nama yang pantas baginya sebagai seorang pejabat negara. Alih-alih menuruti kemauan Oei, Sukarno malah marah dan berkata, “Apa? Kamu kan orang Timur? Apa kamu sudah kehilangan hormat pada ayahmu yang memberi kamu nama itu?” Kisah itu agaknya bisa menjadi pembanding bagi pandangan beberapa lawan politik Sukarno yang menilai Pemimpin Besar Revolusi itu sebagai pribadi bermental Jawasentris.
 Melalui buku ini, Roso Daras memang ingin menyuguhkan pemandangan tentang Sukarno sebagai manusia yang multi aspek. Presiden RI pertama itu tak bisa dinilai kepribadiannya hanya melalui satu kisah saja. Buku ini merupakan usaha yang baik dalam menyuguhkan sosok Sukarno secara utuh kepada generasi masa kini. Hanya saja, Roso Daras tak menuliskan tahun terbit dari sumber pustaka yang memuat kisah Sukarno sebagaimana ia nukil dalam buku ini. Hal ini tentu akan menyulitkan pembaca yang ingin lebih lanjut menelusuri kisah tersebut. Walau begitu, kita tetap layak membaca buku ini sebagai langkah dalam mewarisi api, bukan abu Sukarno.

*Penulis adalah Alumnus Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran.
Penerjemah dan penyunting buku lepas.
Anggota Klub Baca Segala Buku (KBSB) di Bandung.
Novel Girl In The Tangerine Scarf karya Mohja Kahf yang diterjemahkannya telah diterbitkan oleh Penerbit Madia, Jakarta.
Saat ini sedang mengerjakan terjemahan dari Motherless Mother karya Hope Edelman.
Beberapa artikelnya pernah dimuat oleh Jawa Pos, Lampung Post dan Harian Surya. Resensi buku yang ditulisnya pernah dimuat di Jawa Pos, Media Indonesia, Koran Jakarta, Koran Tempo, Harian Sinar Harapan, Harian Umum Pikiran Rakyat dan Harian Surya.

Rekening Bank: BNI Cabang Unpad a/n Fenny Aprilia
Nomor Rekening: 0023086709

Alamat Tinggal: Jl. Cigadung Raya Timur No.39
RT 06 RW 09
Bandung 40191
Nomor Tilpun: 085723455194

 

Segera Terbit

Catatan Harian Seorang Mafia Pajak

article thumbnail

Idealisme mahasiswa yang ditanamkan selama di kampus dan kehormatan diri seorang santri tak cukup kokoh untuk membentengiku dari godaan korupsi. Di kantor pajak, korupsi  [ ... ]


Buku segera terbit lainnya:

    Best Seller

    Wangsit Siliwangi

    article thumbnail

    PENERBIT EDELWEISSHarimau di Tengah Bara Pengarang: E. Rokajat Asura 
    Format: 13 x 20,5 cm
    ISBN:  978-602-8672-00-9 
    Jumlah halaman: 446
    Harga: Rp 49.000,- 
    Soft cover
    Terb [ ... ]


    Buku laris lainnya:
    Home Ulasan Buku Menjaga Api Sukarno