Testimoni Pembaca

Feel: What I want in Life
02/11/2009
article thumbnail

Pengarang: Wulan Guritno, Adilla Dimitri 
Format: 13 x 20,5 cm
ISBN:  978-979-19624-9-0 
Jumlah halaman: 244
Harga: Rp 48.000,- 
Soft cover
Terbit: 21Oktober 2009   Sinop [ ... ]


Luna Maya tentang Buku BlackBerry
01/05/2009
article thumbnail

"Jangan ngaku high tech deh kalau belum baca buku ini dan pake BlackBerry Harian!"

~ Luna Maya


Buku Baru

THE ARK

article thumbnail

Penerbit Imania
THE ARK
Konspirasi Merekonstruksi Bahtera Nuh untuk Menghancurkan Peradaban Manusia
Pengarang: Boyd Morrison               [ ... ]


Buku baru lainnya:
Resensi Akar Tasawuf

Judul : Akar Tasawuf di Indonesia: Antara Tasawuf Sunni dan Tasawuf Falsafi
Penulis : Dr. Alwi Shihab, Ph.D
Penerbit : Pustaka Iman
Cetakan : I, Juni 2009
Tebal : 343 halaman
Harga : Rp 40.000

Sinopsis

     KAPAN Islam pertama kali masuk ke Indonesia masih menjadi perdebatan. Pandangan pertama menyebutkan bahwa Islam datang pada abad ke-7 H (ke-13 M). Pandangan kedua menyebut abad pertama H (ke-7M). Melalui bukunya, Akar Tasawuf di Indonesia, ini Alwi Shihab meyakini pandangan kedua. Dari sini Alwi kemudian masuk ke uraian mengenai sejarah tasawuf di Indonesia.

Penyebaran Islam pertama kali di Indonesia memang tidak bisa dilepaskan dari tasawuf. Kenyataannya, Islam datang ke Indonesia terutama dalam bentuk tasawuf. Para penyebar utama Islam awal adalah kaum sufi.

Selain menegaskan kenyataan ini, buku ini juga berusaha mengembangkan versi yang meyakini bahwa para pendakwah Islam awal adalah keturunan Imam Ahmad bin Isa al-Muhajir— cucu Imam Ja’far al-Shadiq yang berhijrah ke Hadhramawt—yang membawa suatu aliran tasawuf yang belakangan disebut sebagai Tarekat Alawiyah. Bukan hanya Wali Songo dan para pendakwah Islam awal lainnya di Pulau Jawa, bahkan beberapa tokoh tasawuf di luar Jawa secara langsung atau tidak berada di bawah pengaruh tarekat ini.

Tarekat Alawiyah, dan berbagai tarekat mu’tabarah lainnya, dipercayai sebagai termasuk dalam apa yang disebut sebagai tasawuf Sunni, yakni aliran yang terutama berada di bawah pengaruh Imam Al-Ghazali dan sufi-sufi moderat lainnya. Meskipun demikian, di Indonesia pada zaman yang sama berkembang pula aliran tasawuf yang lebih filosofis, yang biasa disebut sebagai tasawuf falsafi.

Kedua aliran tasawuf ini, meski dalam beberapa hal berbagi pemahaman dan keyakinan yang sama, tak jarang mengalami konflik. Di antara yang paling menonjoladalah perdebatan di Aceh antara Hamzah Fansuri— yang mewakili tasawuf falsafi—dan Nuruddin Al- Raniri—yang mewakili tasawuf Sunni—hingga berlanjut ke para murid dan pengikut mereka. Buku ini dibagi menjadi dua bagian. Bagian I, Kehidupan Spiritual di Indonesia, diawali dengan kehidupan spiritual sebelum datangnya Islam dan diakhiri dengan peranan Wali Songo dalam penyebaran tasawuf. Bagian II, Kehidupan Spiritual di Indonesia: Sumber-Sumber dan Tokoh- Tokohnya, menjadi sebagian besar isi buku ini. Bagian ini memaparkan tasawuf Sunni dan tokoh-tokohnya mulai dari Wali Songo hingga Nuriddin Al- Ranniri dan Abd Al-Shamad Al- Palimbani, kemudian tasawuf falsafi dan tokoh-tokohnya mulai dari Hamzah Fansuri hingga Ronggowarsito.

Alwi Shihab, yang lahir di Makassar, 19 Agustus 1946, adalah cendekiawan muslim Indonesia yang banyak dikenal karena aktivitasnya dalam berbagai forum dialog antaragama. Ia meraih dua gelar doktor, dari Universitas ‘Ain Syams, Mesir, dan Universitas Temple, AS. Disertasinya dari Universitas Temple telah diterbitkan dengan judul Membendung Arus: Respons Gerakan Muhammadiyah terhadap Penetrasi Misi Kristen di Indonesia (Penerbit Mizan, 1998). Adapun disertasinya dari Universitas ‘Ain Syams menjadi sumber buku Akar Tasawuf ini. Buku lain karya Alwi Shihab antara lain Islam Inklusif: Menuju Sikap Terbuka dalam Beragama (Mizan, 1997). Alwi pernah menjadi Menteri Luar Negeri di bawah pemerintahan KH Abdurrahman Wahid dan Menko Kesra di bawah SBY.

Sebagai buku yang berasal dari sebuah disertasi, Akar Tasawuf ini sungguh sangat berharga. Haidar Bagir, yang memberikan pengantar, menilai buku ini merupakan suatu sumbangan penting bagi penelitian sejarah Islam awal dan akar tasawuf di Indonesia.

Hanya saja, ada hal kecil yang cukup mengganjal. Alwi menyebut bahwa karya sejumlah tokoh tasawuf, misalnya Al-Shirat Al- Mustaqim dan Durrah Al-Fara’idh fi Syarh Al-’Aqa’id karya Al- Ranniri, ditulis dalam bahasa Indonesia. Padahal, Al-Ranniri hidup pada abad ke-17 dan saat itu belum ada bahasa Indonesia. Mungkin yang lebih tepat adalah bahasa Melayu.

Sisi penyuntingan juga perlu mendapat perhatian. Pada halaman 4 misalnya ada kalimat ”Raja Kertanegara yang terkenal dari Kerajaan Singosari (1276-1292) disebut sebagai agama Shiwa Buddha”. Tampaknya disini ada informasi yang hilang. Konsistensi istilah atau nama juga perlu dijaga. Hadhramawt dan Hadramaut , misalnya sering muncul bergantian. Menurut saya, lebih baik dipilih salah satu.

 

Segera Terbit

Catatan Harian Seorang Mafia Pajak

article thumbnail

Idealisme mahasiswa yang ditanamkan selama di kampus dan kehormatan diri seorang santri tak cukup kokoh untuk membentengiku dari godaan korupsi. Di kantor pajak, korupsi  [ ... ]


Buku segera terbit lainnya:

    Best Seller

    Haji Backpacker

    article thumbnail

    PENERBIT EDELWEISS
    Memoar Mahasiswa Kere Naik Haji
    Pengarang: Aguk Irawan
    Format: 13 x 20,5 cm
    ISBN:  978-602-8672-03-0 
    Jumlah halaman: 212
    Harga: Rp 33.000,- 
    Soft cover
    T [ ... ]


    Buku laris lainnya:
    Home Ulasan Buku Resensi Akar Tasawuf